Sikap suka membanding-bandingkan anak sering ditemui pada ibu baru. Berbagai hal dibandingkan, mulai dari berat badan bayi, kemampuan motorik anak, sampai pola asuh. Menurut Kathy Seal, psikolog, sikap suka membanding-bandingkan tersebut adalah hal yang normal. Bahkan ia menyebutnya sebagai insting bertahan hidup alami manusia.

"Kita memang terprogram untuk mendorong anak-anak berkompetisi. Bahkan, anak-anak di zaman nenek moyang kita harus kuat agar bisa bersaing dalam berburu. Karena itu hal yang natural jika kita anak kita punya keterampilan yang lebih," kata penulis buku Pressured Parents, Stressed-out Kids: Dealing With Competition While Raising a Successcufl Child ini.

Meski begitu, sikap terlalu ingin bersaing dan membandingkan bisa membuat kita stres. Sikap ini juga membuat kita kurang menghargai apa yang sudah dicapai anak.

Read more: Akibat Buruk Bagi Orangtua yang Sering Membanding-bandingkan Anak

Jarum jam hampir menunjuk angka 12, siang hari yang indah saat murid murid TKIT IbnuHajar kelas Makkah sedang istirahat dan makan bersama, tiba tiba terdengar suara petir yang mengagetkan…, “Subhanalloh…” semua pada nengok ke jendela, “Wah hujan…, gimana nih…!” seorang anak tampak panik. “Ya sudah.., bersyukur aja.. gitu ya Bu Guru…!” hibur beberapa teman, “Betul… bersyukur aja.. alhamdulillah…” sahut Bu Guru. Subhanalloh… anak anak sudah mulai biasa, selalu bersyukur, dan tidak panik ketika ada hujan…, “Hujan…, alhamdulillah..”.

 

 

 

Setiap kita terikat dalam ikatan tauhid, yakni beriman kepada Alloh SWT dengan MEMAHAMI AQIDAH SECARA BENAR merupakan keharusan untuk diprioritaskan. Seorang Muslim hendaknya berakhlaq dengan perilaku terpuji, maka aqidahnya harus terbebas dari penyimpangan. Konsep etika dalam Islam terbungkus dalam bingkai keyakinan yang benar. Aqidah sebagai pengontrol aktifitas kita.  Segala yang kita perbuat  akan diminta pertanggungjawaban.  Hanya Alloh-lah pemilik sifat yang Maha Tinggi, tidak ada sekutu bagi-Nya.  Oleh karenanya dengan sendirinya karakter seseorang akan terkontrol ketika selalu konsisten dan disiplin ta’at kepadaNya.

Keharusan untuk menanamkan aqidah dalam setiap konteks pendidikan karakter adalah satu hal yang membuat karakter itu kuat dan bernilai, sebagai benteng yang kokoh meski menghadapi pesatnya perkembangan zaman yang semakin canggih, semakin modern, sekaligus semakin serba mudah untuk merubah pola pemikiran dan gaya hidup manusia.

Sungguh.. kita selalu mengharapkan munculnya generasi generasi yang hebat dan berakhlaq mulia, ilmuwan ilmuwan yang santun, yang tawaddlu’, pejabat negara yang selalu jujur, pemimpin yang adil dan bersih…, yang takut kepada Rabb-nya, serta menjunjung tinggi nilai nilai Islam untuk kemaslahatan dunia hingga ke akhirat kelak.

-di kutip dari berbagai sumber-

Ibnu Hajar Foundation